Dan
setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya
sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan
hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya:
-- "Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit
pun daku berlumur dosa...!"
----------
Habis Gelap terbitlah Terang
Ia adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah
Mu'awiyah. Kisahnya merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang
setelah benci dan bahagia setelah celaka .... Yaitu kisah tentang
rahmat Allah yang pintu-pintu-nya terbuka lebar, demi seorang hamba
menjatuhkan diri diharibaan-Nya, setelah penderitaan yang
berlarut-larut ... !
Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits
dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam ... ! Waktu 20 tahun,
yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan
Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung
Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan
serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan
yang dilancarkan terhadap Islam.
Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi'ah dan Abdullah, semuanya
telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu
Nabi, yaitu putera dari pamannya, Harits bin Abdul Mutthalib. Di
samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selain beberapa
hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa'diyah.
Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan
membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja'far dan dikatakannya kepada
keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana
tujuannya, jawabnya ialah:
"Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul'alamin .. . !"
Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar ....
Di Abwa' kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar.
Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan
maksud hendak membebaskannya. Ia bingung memikirkan apa yang hendak
dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi
Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah
telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah
seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia
harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum
jatuh ke tangan orang lain.
Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan
memegang tangan puteranya Ja'far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya,
hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan
shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba
sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan
Rasulullah. Beliau memalingkan muka daripadanya, maka Abu Sufyan
mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan
diri daripadanya.
Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya berseru:
"Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah .
Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya katanya: "Tiada dendam dan tiada
penyesalan, wahai Rasulullah".
Rasulullah pun menjawab:
"Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!"
Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya: --
"Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah,
kemudian bawa lagi ke sini".
Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah:
"Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu
Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula…!"
Demikianlah hanya sekejap saat…! Rasulullah bersabda:
"Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah…!" Maka tergulunglah
sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan, dan terbukalah
pintu rahmat yang tiada terbatas....
Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu
yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia
berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut
serta, dan mengirimkan 'Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati
yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang
mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.
Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam
bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang
berkuda datang menghampiri. Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu
Sufyan bin Harits.
Tanpa bertangguh Abu Lahab memanggilnya, katanya: - "Mari ke sini hai
keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami
bagaimana kabar di sana …!"
Ujar Abu Sufyan bin Harits: - "Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa
kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher
kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami
semau mereka ...! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang
Quraisy Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda
hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa
dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!"
-- yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin -
Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu,
padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?
Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan.
Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula
keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia datang
nanti .... Nah, saat petunjuk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai
kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul'alamin
... !
Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan
menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus
bekas-bekas masa lain dan mengejar ketinggalannya selama ini....
Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pempembebasan Mekah ia
selalu ikut bersama Rasulu!lah. Dan di waktu perang Hunain orang-orang
musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi,
dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan
mereka porak poranda.
Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya
berseru: "Hai manusia ... ! Saya ini Nabi dan tidak dusta... ! Saya adalah putra Abdul Mutthalib ... !"
Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada beberapa gelintir
shahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba
itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan puteranya
Ja'far.
Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika
dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang
dinanti-nantinya selama ini, yaitu berjuang fi sabilillah sampai
menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil
tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang
leher musuh dengan tangan kanannya.
Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran
sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah memberi mereka kemenangan
mutlak.
Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling ....
Kiranya didapatinya seorang Mu'min sedang memegang erat-erat tall
kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai
selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah
meninggalkannya.
Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya: "Siapa ini ... ? Oh,
saudaraku, Abu Sufyan bin Harits... !" Dan demi didengarnya Rasulullah
mengatakan "saudaraku", hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan
gembira. Maka diratapinya kedua kaki Rasulullah, diciuminya dan
dicucinya dengan air matanya ....
Ketika itu bangkitlah jiwa penyairnya, maka digubahnya pantun
menyatakan kegembiraan atas keberanian dan taufik yang telah
dikaruniakan Allah kepadanya: -
"Warga Ka'ab dan 'Amir sama mengetahui
Di pagi hari Hunain ketika barisan telah cerai berai
Bahwa aku adalah seorang ksatria berani mati
Menejuni api peperangan tak pernah nyali
Semata mengharapkan keridla;in Ilahi
Yang Maha Asih dan kepada-Nya sekalian urusan akan kembali".
Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan
sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kematian agar dapat
menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya
masih turun naik, tetapi kematiantetap menjadi tumpuan hidupnya... !
Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi' sedang menggali
lahad, menyiapkan dan mendatarkannya. Tatkala orang-orang menunjukkan
keheranan mereka, maka katanya:
"Aku sedang menyiapkan kuburku ....".
Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya
sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan
hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya:
-- "Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit
pun daku berlumur dosa...!"
Dan sebelum kepalanya terkulai di atas dadanya, diangkatkannya sedikit
keatas seolah-olah hendak menyampaikan selamat tinggal kepada dunia
fana ini ...