Sabtu, 20 Agustus 2011

Menuliskan Jariyah II

SUATU ketika, Rasulullah yang mulia bersabda—tentang sebuah amalan yang pahalanya itu mengalir terus, walau kita sudah tiada. Beliau yang mulia bersabda, “Apabila meninggal anak cucu Adam (manusia), maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal saja, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya oleh manusia, dan anak saleh yang berdoa untuknya.”


Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ini, kita dapat mengerti bahwa tiga amalan ini bisa menjadi salah satu amal andalan kita. Sedekah itu “susah-susah gampang.” Kalau belum punya apa-apa biasanya orang akan mengumbar janji, seperti “nanti kalau saya ada uang, saya akan sedekahkan yang banyak.” Tapi, ketika uang telah berada di tangannya, ia pun urung untuk itu, karena berpikir bahwa banyak sekali kebutuhannya yang belum tuntas. 


Ilmu yang bermanfaat banyak macamnya. Bisa lewat mengajar langsung, misalnya seorang ayah/ibu mengajarkan anaknya membaca al-Qur’an. Kelak, jika anaknya itu mengamalkan terus hasil pelajaran dari orang tuanya, maka kedua orangnya juga mendapatkan pahala walau mereka telah tiada. Bentuk lainnya, bisa dalam format buku. Seorang penulis yang menuliskan ide-idenya, memberikan penerangan atau cahaya kepada pembacanya, itu juga termasuk dalam amalan jariyah. Itulah kenapa banyak ulama yang selain mengajar, mereka juga menulis buku. Ibnu Taimiyyah, adalah contoh itu. Fatwa-fatwa beliau hingga kini masih dicetak, dan dibaca—bahkan seorang kawan di Universitas Islam Madinah—menyebut bahwa ada kawannya juga yang berhasil menghafal “Kumpulan Fatwa” (Majmu’ al-Fatawa)-nya Ibnu Taimiyyah.


Anak saleh juga bagian dari amalan jariyah. Anak yang senantiasa mendoakan kedua orangnya tentu menjadi berkah tersendiri bagi kedua orang tuanya. Suatu waktu, saya pernah mendengar langsung dari seorang ayah—beliau sudah tua, bertongkat. Ia bilang begini, “Saya ini heran, anak-anak tidak tahu diri.” Sejenak saya berpikir, “Kenapa bisa seperti itu?” Ternyata, anak-anaknya itu sudah begitu bebas, mereka juga malas untuk berlama-lama di rumah. Kita berlindung kepada Allah, semoga tidak seperti itu.

***

Beberapa waktu lalu, Nurul F Huda, meninggal. Nurul adalah seorang aktifis Forum Lingkar Pena (FLP). Ia termasuk salah seorang pendiri FLP Jogja. Dari Jogja, ia ke Batam, dan di sana mendirikan juga FLP, dan menjadi ketuanya. Ia termasuk penulis yang aktif. Buku-bukunya sekitar 23 buah—itu belum termasuk antologinya bersama penulis lain. Tema yang ia tulis bercerita tentang perempuan, ibu rumah tangga, atau masalah-masalah kecil dalam keseharian dan pengembangan diri ala Islam.


Pada 2002, saya bertemu dengan Nurul di Silaturahmi Nasional (Silnas) FLP. Waktu itu anaknya masih kecil. Digendongnya dengan sabar. Bersamanya juga waktu itu adalah suaminya. Pada beberapa tahun selanjutnya, saya sempat chatting di Facebook. Bertanya kabar, termasuk tentang dirinya. Nada-nada semangat, perjuangan untuk terus bisa eksis, bisa hidup, dan juga berdakwah lewat tulisan ia jalani. Sebelum ia wafat, sebuah judul buku ditulisnya, “Hingga Detak Jantungku Berhenti.” Buku ini menjadi semacam legacy (warisan) terakhir Nurul sebelum ia menghadap Allah.


Banyak mata yang sedih atas kepergiannya. Ia lahir pada 1975, dan punya ghirah yang besar untuk dakwah. Kepergiannya bisa menjadi ibrah bagi kita semua, bahwa kematian itu tidak ada yang dapat memastikannya. Kalender kematian kita sudah tercatat dalam ilmu Allah. Olehnya itu, maka tugas kita selama masih di dunia ini adalah berbuat amalan sebaik-baiknya, agar suatu saat nanti bisa kita tuai di akhirat. Insya Allah, amin.

***

Tak berapa lama setelah kepergian Nurul, ada berita juga bahwa Ustadzah Yoyoh Yusroh meninggal. Beliau lahir pada 1962, anaknya ada 13, dan saat itu sedang menjalankan amanahnya sebagai anggota DPR RI dari fraksi PKS. Ceritanya, ia sedang dalam perjalanan pulang setelah menghadiri wisuda anaknya di kampus UGM, namun kemudian kecelakaan datang. Di Cirebon tempatnya. Dibawa ke rumah sakit, tak seberapa lama kemudian, ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan.


Ustadzah Yoyoh dikenal secara luas karena aktivitasnya yang lebih banyak untuk mengabdi. Seseorang yang dekat dengan keluarga almarhumah berkata, “Beliau tipe perempuan yang langka. Ia kemana-mana-termasuk ke Mesir, dan Palestina. Bahkan, ia dalam kadar tertentu bisa melebihi laki-laki.” Kurang lebih seperti itu kesan beliau. Saat mengikuti salat jenazah beliau di Komplek Perumahan Anggota DPR-RI di Kalibata, saya melihat banyak sekali yang berkumpul. Bisa jadi lebih dari 1000 orang di situ. Bahkan, untuk salat jenazahnya sampai diadakan hingga gelombang kedua, karena penuhnya jama’ah.


Banyaknya orang yang menangis, terharu, dan bangga dengan perjuangan beliau setidaknya menjadi salah satu bukti husnul khatimah atau “akhir yang baik”, Insya Allah. Di Tangerang, ia mendirikan sebuah yayasan, bernama Yayasan Ummu Habibah. Santrinya dilatih untuk bisa menghafalkan al-Qur’an. Beliau sendiri dikenal sebagai seorang hafizhah, 30 juz dihafalnya. Bagaimana dengan kita ya?

***

Nurul F Huda, seorang penulis. Ustadzah Yoyoh, seorang da’iyah, yang hidupnya banyak didedikasikan untuk dakwah. Nurul menerbitkan banyak buku. Ustadzah Yoyoh, setidaknya lewat facebook-nya, ia menuliskan up date berita yayasan yang dibangunnya itu. Hingga bangunan itu selesai, ia masih terus meng-up date informasi tentang yayasannya itu. Di blog multiply-nya, ia juga menuliskan bagaimana pemikiran, memposting berita-berita atau komentarnya yang dimuat di media massa.

Hafal 30 juz, itu tidak mudah. Setidaknya, kalau bisa dihafal, untuk menjaganya itu juga susah. Apalagi bagi seorang ibu yang anaknya sampai 13. Subhanallah. Ini bisa menjadi hikmah buat kita semua bahwa selagi kita masih ada umur, selagi hayat masih di kandung badan, ada baiknya untuk memperbanyak dan melakukan amalan-amalan yang terbaik. Bisa lewat menulis, lewat mengajar, atau dengan membantu mereka-mereka yang kesusahan. Senyum khas Ustadzah Yoyoh yang dapat dilihat dari foto sebelum ia dimakamkan setidaknya menjadi tanda akan husnul khatimah. Kita berdoa semoga beliau yang telah berjuang untuk dakwah, untuk keluarganya, bahkan untuk bekal bagi dirinya, ditempatkan di posisi terbaik dalam surga Allah. Wallahu A’lam Bisshawab. ***

Barakallah, Semoga Bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar